Fokus pada TWC: Perayaan Edisi ke-20

Fokus pada TWC

Bulan ini, OTW (Organisasi Untuk Karya Transformatif) merayakan edisi ke-20 Transformative Works and Cultures – TWC (Karya dan Kultur Transformatif), jurnal akademik daring ulasan sejawat OTW yang fokus pada kajian media. Jangan lupa bergabung dengan kami di tanggal 19 September untuk sesi obrolan langsung dengan kami.

Hari ini kita akan melihat lebih dalam sejarah TWC. Paul Booth dan Lucy Bennett merupakan penulis TWC, secara berkala melakukan ulasan sejawat untuk jurnal, dan pernah bersama-sama menjadi penyunting tamu pada satu edisi; Paul juga merupakan anggota direksi editorial TWC. Amanda Odom adalah penulis yang telah menulis dua artikel Symposium. Ketiganya telah berbaik hati menjawab beberapa pertanyaan tentang pengalaman mereka dengan jurnal akademis dan bidang kajian penggemar.

Edisi ke-20 TWC merupakan pencapaian besar. Ini menandai tujuh tahun perjalanan sejak Volume 1 diterbitkan. Apakah kalian terkejut mengetahui TWC masih terus ada sampai sekarang?

Paul: Saya sama sekali tidak terkejut mengetahui kesuksesan Karya dan Kultur Transformatif. Dari edisi pertama, jurnal ini telah menelurkan karya-karya akademis berkualitas dan tajam yang merupakan sebuah anugerah tersendiri bagi kajian media (dan fandom secara umum). Saya tahu bahwa publikasi terbuka dalam dunia akademis – yaitu, penerbit yang tidak berdasarkan pada sistem berbayar dan bentuk payung penelitian konvensional – seringkali dianggap kurang berharga dalam banyak bagian dari dunia akademis, tetapi TWC membuktikan yang sebaliknya. Dengan menerbitkan jurnal dalam bentuk yang meniru sifat penggemar itu sendiri, yaitu dengan mengizinkan siapa pun mengakses dan belajar dari jurnal tersebut, TWC telah membuat kajian penggemar lebih dapat diakses oleh akademisi dan para penggemar (dan oleh penggemar-akademis, akademisi-peggemar, peneliti penggemar, atau sebutan lainnya yang lebih tepat!). Kajian penggemar telah berkembang sebagai sebuah bidang tersendiri karena adanya akses terbuka ini – dengan menawarkan karya-karya ilmiah yang penuh wawasan dan berdasar teori ilmiah kepada orang-orang yang pada umumnya tidak menganggap diri mereka bagian dari disiplin akademis “kajian penggemar”, TWC telah membuka makna sesungguhnya dari menjadi seorang akademisi dan makna melakukan penelitian akademis di abad ke-21. Karya dan Kultur Transformatif telah melebarkan bidang kajian ini dan mengizinkan banyak orang mengakses karya ilmiah yang sebelumnya tidak dapat diakses. Mereka seharusnya dipuji pada hari jadi TWC ini atas segala karya penting ini! Kami semua berkembang karena TWC.

Lucy: Sama sekali tidak terkejut! Saya pikir jurnal ini merupakan warisan utama semangat di bidang ini sekarang. Saya rasa kajian penggemar sedang berada dalam masa perkembangan yang menggembirakan – para akademisi baru mulai muncul dan, begitu pula, bidang kajian penggemar ini pun menjadi semakin reflektif, menemukan celah dan kesalahan dan berusaha membawanya ke hadapan publik. Beberapa konferensi yang diadakan tahun ini (PCA [konferensi Popular Culture Association], SCMS [konferensi Society for Cinema and Media Studies], FSN [konferensi Fan Studies Network]) dan diskusi yang terbangun di antara mereka menunjukkan besarnya energi yang telah terbangun. Saya merasa bahwa TWC telah berkembang bersamaan dengan energi ini, memproduksi karya yang luar biasa, dengan edisi-edisi spesial yang sangat sesuai kondisi dan penting. Dorongan semangat untuk edisi spesial ini secara khusus, menurut saya, telah menyokong energi dan arah jurnal ini, sebagai tambahan dari penekanan jurnal dalam perlindungan karya penggemar dan sumber-sumbernya – sebuah faktor vital dalam penelitian fandom.

Menjadi penerbitan terbuka juga merupakan hal yang penting dalam iklim akademis dewasa ini. Penerbitan terbuka membuat karya ini dapat lebih tersedia dan diakses oleh pembaca yang lebih luas. Saya pikir hal ini merupakan salah satu aset yang sangat berharga dari jurnal ini.

Saya juga ingin mengatakan – saya juga berpikir bahwa kesuksesan TWC telah begitu banyak dibantu oleh dukungan penyuntingan yang begitu kuat dari Kristina dan Karen. Sebagai penulis dan juga penyunting tamu, saya dapat melihat betapa berharganya bimbingan mereka selama proses pengerjaan jurnal. Dorongan semangat dan dukungan mereka terhadap para penulis baru dan lama merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam TWC.

Jadi, secara keseluruhan, saya sama sekali tidak terkejut mengetahui TWC berkembang menjadi semakin solid. Saat membaca edisi-edisi awalnya, saya memiliki harapan bagi jurnal ini dan sangat gembira melihat perkembangannya yang melampaui antisipasi awal saya.

Amanda: Saya justru akan terkejut kalau terjadi yang sebaliknya. Industri film, komik dan game (di antaranya) telah semakin menerima keberadaan budaya penggemar. Kita dapat melihatnya dari jenis-jenis film yang meraup keuntungan tertinggi beberapa tahun terakhir ini (termasuk seri The Dark Knight, The Avengers, The Hunger Games, Harry Potter). Kita dapat melihatnya dari sutradara-sutradara favorit penggemar seperti Joss Whedon dan James Gunn (yang juga memulai karir dengan bekerja sama dengan tim favorit fandom ternama, tim Troma) yang telah diberi sumber daya untuk membuat film-film yang telah meraup penghasilan kotor tertinggi tersebut. Kita dapat melihatnya dari peningkatan jumlah penulis “arus utama” yang memulai dari atau tetap menjadi penulis fanfiksi. Nyatanya, beberapa media non-akademis sedang mempertimbangkan tempat fanfiksi dalam media modern (Washington Post, Wired, dan Entertainment Weekly semuanya pernah mencantumkan artikel tentang hal ini tahun lalu). Kenyataan bahwa naskah-naskah Alternate Universe (AU) semakin populer (langsung terbayang Star Wars dan Once Upon a Time) merupakan indikasi lain akan kelenturan naskah kanon.

Bagaimana dengan novel-novel seperti Fifty Shades of Grey dan Twilight, pembuatan ulang Star Trek dan Star Wars, serta nama besar yang didapatkan konvensi penggemar seperti SDCC dan NYCC? Beberapa tahun terakhir ini dapat dilihat adanya fokus media arus utama yang makin meluas terhadap karya transformatif dan komunitas penggemar. Apakah kalian melihat adanya peningkatan dalam jumlah dan jenis karya ilmiah yang diajukan ke dalam TWC terkait hal ini?

Paul: Saya mengakui bahwa meskipun dunia fandom sendiri telah menjadi semacam jenis identitas yang semakin mainstream – makin banyak orang mengidentifikasikan dirinya sebagai penggemar dan semakin banyak orang yang bangga dengan identitas mereka sebagai penggemar – saya belum melihat adanya peningkatan dalam jumlah dan jenis karya ilmiah yang diajukan untuk TWC. Tentu saja, saya hanya melihat sebagian kecil karya ilmiah – hanya karya-karya yang harus saya nilai dan yang diajukan untuk edisi spesial saya. Jadi saya tidak memiliki pandangan menyeluruh terkait jumlah jurnal yang didaftarkan. Karya ilmiah dan artikel yang diterbitkan sekarang ini memiliki kualitas setinggi jurnal-jurnal tahun 2008, dan terutama edisi umum mewakili keragaman konten yang luas terkait karya transformatif. Malah, yang lebih sering saya lihat secara umum dalam penelitian penggemar adalah kritik dan pembacaan ulang terhadap narasi-narasi arus utama. Penulis seperti Kristina Busse, Matt Hills, dan Suzanne Scott merumitkan identitas “arus utama” ini dan menggambarkan bahwa ada identitas-identitas khusus yang menjadikan suatu identitas sebagai arus utama, dan hanya jenis-jenis fandom tertentu yang diagungkan. Meskipun kita sudah melalui masa persepsi dikotomis bahwa “penggemar olahraga itu normal sementara penggemar media dikucilkan,” saya pikir perjalanan kita masih jauh untuk membuat penggemar media (terutama penggemar transformatif perempuan yang tidak berkulit putih) dianggap sah seperti jenis penggemar lainnya.

Lucy: Menurut saya, sedikit-banyak fokus yang meluas pada fandom telah menarik minat lebih banyak akademisi kepada kajian penggemar secara umum, lalu kepada jurnalnya itu sendiri. Sulit bagi saya untuk menaksir hal ini dari keseluruhan karya ilmiah yang diajukan, tapi sebagai pembaca TWC, serta penilai, saya memperhatikan adanya cakupan yang lebih luas dari materi yang dipelajari dan diterbitkan. Menurut saya, fokus utama dari media ini cukup menarik untuk menggali makna ranah kultur penggemar ini, baik untuk akademisi kajian penggemar dan penggemar itu sendiri. Saya rasa TWC telah merefleksikan energi ini dengan sangat baik, tapi hal itu telah kerap dilakukan sejak edisi awal.

Amanda: Poin-poin pembahasan dari edisi-edisi sebelumnya tetap penting dan relevan hingga saat ini, sama seperti saat pertama kali ditulis dulu. Melihat kembali ke edisi perdana, saya mencatat bahwa, contohnya, ada artikel mengenai “Demokrasi partisipatoris dan fandom Hillary Clinton yang termarjinalisasi.”

Menariknya, artikel “‘Sekali lagi melakukan pengelanaan kerajaan’: Game penggemar dan genre petualangan klasik” dari edisi 2009 sekali lagi menjadi relevan saat seri Kings Quest menambahkan game baru dan baik Gabriel Knight dan Grim Fandango menerbitkan versi pembuatan ulang dalam rangka hari jadi game tersebut. Banyak perusahaan game retro atau indie berpaling pada Kickstarter dan kampanye pengurunan dana lainnya untuk menghidupkan mimpi pencipta dan penggemar.

Definisi dari fandom sendiri bermacam-macam. Jurnal TWC terus berusaha merangkul keberagaman ini dengan cara mendiskusikan musik, olahraga, novel, komik, film, dan games, serta dengan cara menjelajah sejarah, mempertimbangkan tren masa depan, dan memeriksa fandom “beraksi” dengan cara menjelajahi kelompok-kelompok dan konvensi-konvensi terkini. Tema-tema pengalaman bersama, masalah kepemilikan (tubuh, teks), dan komunitas sosial fandom telah diperhalus dalam media arus utama. Bersamaan dengan partisipasi penggemar yang terus berkembang, jurnal TWC telah mampu memeriksa banyak elemen mikro dan makro dari bidang kajian penggemar ini.

Dengan menggunakan kacamata penilai kalian, bisakah kalian memberi tahu kami apa yang membuat sebuah laporan penelitian tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga membuat penelitian tersebut menjadi salah satu yang cocok diterbitkan di dalam jurnal?

Paul: Bagi saya, laporan penelitian yang paling menarik adalah penelitian yang membawa saya melihat perspektif baru dalam kajian penggemar. Saya pikir kekuatan jurnal ilmiah seperti Karya dan Kultur Transformative terdapat di karya-karya prospektif yang dikumpulkan di dalamnya. Tulisan-tulisan tersebut mendorong bidang kajian penggemar ke arah yang baru. Laporan penelitian yang diterbitkan harus memiliki dasar teori tetapi tidak sebegitunya bergantung pada teori tersebut sampai-sampai hanya menjelaskan ulang apa yang sudah pernah ditemukan. Laporan penelitian juga harus membuktikan bahwa penulis telah melakukan pekerjaannya dengan baik, bahwa mereka tahu penelitian-penelitian kunci di area kajian penelitian tersebut. Sebagai bidang tersendiri, kita telah berlalu dari hanya “Jenkins 1992” (walaupun itu juga masih penting!): ada banyak penelitian di bidang kajian penggemar yang muncul hanya dalam sepuluh tahun terakhir ini saja, penting adanya untuk mengetahui kunci perubahan dalam disiplin ini. Tentu saja, cukup membantu juga bahwa bidang ini tidak sebegitu besar hingga pekerjaan tersebut menjadi tidak mungkin! Tapi kuncinya bagi saya adalah selalu berusaha menemukan argumen paling awal. Saya suka mengulas penelitian dan tetap berada di garis depan bidang ini – mengetahui apa saja yang akan muncul membuat saya bersemangat.

Lucy: Secara pribadi, ada beberapa area yang bisa membuat saya tertarik dalam memilih jurnal TWC yang potensial. Hal itu bisa berupa metode yang tegas, argumen yang kuat, atau eksplorasi area yang belum pernah dibahas secara panjang lebar sebelumnya. Penelitian yang merangkum teori di luar teori umum juga bisa menjadi sangat menarik. Menurut saya, penekanan pada perilaku transformatif dapat menginspirasi penelitian yang sangat dinamis, juga penelitian-penelitian yang membahas area baru atau yang sebelumnya sangat sedikit dibahas dapat menarik perhatian saya sejak awal.

Amanda: Setiap tulisan harus dapat menarik perhatian karena hal itu membentuk elemen keterkaitan dengan ide yang lebih besar. Untuk kajian penggemar, saya suka meneliti hubungan antara sebuah teks secara spesifik dengan genre yang lebih besar, genre dengan jumlah pembaca, jumlah pembaca dengan komunitas.

Bisakah kalian menceritakan tentang proses penyuntingan pra-produksi? Apakah staf editorial bekerja sama dengan para penulis? Secara umum, apakah sebuah laporan penelitian berubah sama sekali dari bentuk pengajuannya hingga menjadi publikasi jurnal?

strong>Paul: Saya hanya dapat berbicara berdasarkan pengalaman saya sendiri dengan jurnal TWC: artikel-artikel ilmiah yang saya terbitkan dan edisi spesial yang saya dan Lucy buat bersama. Secara umum, jumlah perubahan dalam sebuah artikel ilmiah bisa sangat berbeda dilihat dari apa yang diajukan dan revisi macam apa saja yang sekiranya penting. Revisi konten melalui ulasan sejawat dapat sangat melelahkan atau hanya berupa perubahan kecil; hal itu sangat tergantung dari seberapa solid laporan penelitian sejak saat pengajuan awal. Artikel ilmiah pertama yang saya ajukan untuk jurnal (untuk edisi 9, “Video Penggemar/Remix,”) sangat berbeda dari hasil akhir yang diterbitkan karena proses ulasan sejawat yang begitu rapi. Saya mendapatkan masukan luar biasa yang membantu artikel ilmiah tersebut menjadi lebih kuat – tapi dalam prosesnya artikel itu sangat banyak diubah! Artikel lain yang saya terbitkan, pada edisi 18, tidak membutuhkan revisi konten sebanyak itu. (Ini bukan mengomentari penilai sejawat atau penyunting, yang selalu konsisten menjaga kualitas kerja yang baik; hanya merupakan refleksi dari dua artikel berbeda yang ditulis pada dua masa berbeda dalam karir saya). Kedua artikel ilmiah tersebut diterbitkan berbeda dengan yang awalnya diajukan – berbeda dan lebih baik! Ini salah satu alasan kenapa saya menyukai artikel yang telah melalui ulasan sejawat: kemampuan menulis saya sangat diuntungkan oleh kualitas ulasan sejawat yang saya terima, baik di TWC dan di sebagian besar jurnal tempat saya mempublikasikan karya; jadi, sebagai balasannya, saya juga berusaha memberikan masukan yang berkualitas.

Menerbitkan edisi spesial memiliki suka-dukanya tersendiri, tentu saja – Lucy dan saya bekerja sama dengan para penyunting dalam menyediakan masukan bagi para penulis. Saya juga dapat mengikuti proses penyuntingan secara lebih dekat pula, dan saya sangat terkesan dengan kualitas suntingannya. Tidak jarang Lucy, saya, dan penulis sendiri akan membaca tuntas sebuah artikel ilmiah berulang kali, merasa tulisannya sudah sempurna, lalu artikel itu kembali dengan banyak tanda merah! Pekerjaan penyunting sering kali tidak terdeteksi, tapi tidak pernah tidak disadari – atau mungkin, Anda tidak menyadarinya karena hasilnya terlalu halus.

Lucy: Staf editorial di TWC sangat menyeluruh dengan bimbingan dan bantuan mereka, yang merupakan bagian paling berharga dari proses tersebut. Pengalaman menjadi penyunting tamu dan menerbitkan jurnal bagi saya secara konsisten cukup mulus, terutama berkat staf editorial yang saling membantu dengan para penyunting tamu. Ya, sebuah laporan penelitian dapat sangat banyak berubah selama proses penyuntingan, walaupun berbeda-beda pada setiap penelitian. Proses ulasan sejawat untuk TWC, tempat saya bergabung selama beberapa tahun sebagai penilai, selalu bersifat konstruktif, dengan masukan yang dibuat untuk membantu penulis membuat laporan penelitian mereka sekuat mungkin.

Satu hal yang penulis seringkali lewatkan adalah mereka tidak menempa dan secara eksplisit menjelaskan latar belakang argumen dalam pendahuluan yang nantinya akan dibahas di seluruh artikel, atau melalaikan bagian metode penelitian – sebuah kelalaian yang signifikan, karena jurnal akademis menekankan pada pentingnya menjelaskan metode yang dipakai, terutama jika sumber-sumber penggemar terlibat di dalamnya. Melihat transformasi yang dapat terjadi ketika artikel semacam ini direvisi dapat menjadi pengalaman yang luar biasa. Laporan penelitian lain bisa memiliki koreksi yang sangat sedikit, tapi dari pengalaman saya, sangat sedikit laporan ilmiah yang tidak sedikit-banyak meningkat kualitasnya setelah mendapat komentar dan usulan dari proses ulasan sejawat TWC.

Amanda: Dari pengalaman saya sebagai penyunting dan penulis, saya rasa hal ini sangat tergantung dari artikel itu sendiri. Di beberapa kasus, beberapa esai bisa saja tinggal langsung “menyanyi” sedari awal pengajuan. Esai-esai seperti ini didukung data yang baik, relevan, dan sesuai dengan tema suatu edisi, dan jenis naskah seperti ini bisa jadi sangat menyenangkan.

Terkadang, seorang peneliti bisa saja ingin membahas sesuatu tetapi memiliki kesulitan mengenai apa saja yang harus didefinisikan secara eksplisit atau apa saja yang butuh dikembangkan atau dirinci berdasarkan target pembaca atau tujuan umum naskah tersebut. (Sebenarnya, dengan jenis jurnal yang memiliki fokus yang begitu luas dalam komunitas fandom, penulis harus berhati-hati; sebagian pembaca mungkin akan familier dengan fanfiksi AU tapi tidak mengetahui Live Action Role Playing (LARPing).) Dengan demikian, dapat terjadi kiriman surel dan korespondensi bolak-balik berisi saran, masukan interpretasi, dan kadang berbagi penelitian atau sumber data.

Kalian bertiga (Lucy, Paul, dan Amanda) adalah penulis jurnal akademis. Bagian apa dari kultur penggemar dan kajian media yang sering menginspirasi kalian?

Paul: Oh, ini sungguh pertanyaan yang kompleks! Ketika saya mengekstraksi kultur penggemar dan kajian media menjadi apa yang secara spesifik membuat saya tertarik, itu adalah pengaruh fandom terhadap dunia. Saya percaya bahwa fandom merupakan salah satu bagian paling penting dari budaya kita, dan bukan hanya karena (sebagian darinya) telah menjadi identitas arus utama dalam beberapa tahun belakangan. Kami mengasosiasikan penggemar dengan media teks, terutama dalam jurnal seperti Karya dan Kultur Transformatif, ada kami memiliki alasan bagus mengenai hal ini. Penggemar itu tampak; mereka melakukan pertunjukan kostum, mereka menulis fiksi, mereka membuat video. 130.000 orang menghadiri Comic-con. Berjuta-juta pemakaian Tumblr, Twitter, atau Wattpadd dilakukan untuk bertemu dan membicarakan tentang acara televisi, film, buku, dll. yang mereka favoritkan.

Tidak perlu diragukan lagi bahwa fandom merupakan sesuatu yang penting. Orang-orang terpapar hampir 15 setengah jam media setiap harinya, yang membuat kita menghabiskan lebih banyak waktu mengalami paparan media dibandingkan bermimpi. Apakah ada yang aneh jika kita memilih untuk berkonsentrasi hanya pada media yang kita sukai? Fandom merupakan representasi nyata dari interaksi ini, dan cara penggemar mengkritik media dan berusaha membuatnya lebih baik (bagaimanapun hal tersebut didefinisikan) merupakan bagian krusial dari dunia media kita. Kajian penggemar, sebagai salah satu cara merasionalkan kegiatan ini, serta sebagai cara menggambarkannya kepada orang lain, sama krusialnya dalam membuktikan pengaruh penggemar dalam budaya kita.

Tapi fandom lebih dari sekadar media, dan penggemar merepresentasikan perasaan yang lebih universal: tentang afeksi positif, tentang komunitas, tentang keterlibatan, atau perubahan sosial. Kami melihat fandom di dalam ritual keagamaan, kami melihat fandom di cerita api unggun, kami melihat fandom di aktivitas politik. Pola emosional fandom dapat diperluas ke bagian yang paling menyenangkan dan dramatis dari kehidupan berkebudayaan kita. Kajian penggemar mengizinkan kita untuk memberi konteks, membuat sejarah, dan mempersonalisasi aktivitas penggemar saat ini, serta mengaplikasikannya ke dalam setiap aspek hidup kita.

Penggemar yang terbaik merepresentasikan diri kita yang terbaik.

(Tolong dicatat, saya tidak secara sengaja mengabaikan beberapa aspek penggemar yang lebih negatif – mempelajari antagonisme penggemar membantu kita melihat pertentangan dalam area lain kehidupan berbudaya kita juga. Meski demikian, fandom merupakan pengalaman positif bagi banyak orang, dan hal itulah yang menurut saya sangat menyegarkan dan terus memberikan inspirasi).

Lucy: Bagi saya, saya akan mengatakan bahwa elemen kultur penggemar yang memesona saya adalah gairah dan kekuatan yang dapat ditemukan di dalam diri – dua hal yang seringkali dapat dikaitkan di sekitar objek dan afek penggemar. Saya sangat menikmati usaha mengurai kultur penggemar untuk menjelajahi gagasan kuncinya, serta gagasan yang dapat memancing kesenangan dan konflik. Ada banyak hal yang bisa ditelusuri di dalam kajian penggemar – bagi saya itu sangat menginspirasi.

Amanda: Saya sendiri seorang penggemar. Saya menyukai Batman, Sandman, Silent Hill, Alien… Saya sangat tertarik membaca/menonton naskah dari seri favorit saya, dan saya beruntung karena memiliki profesi yang mengizinkan saya menjelajahi hal ini lebih jauh. Saya suka membaca tentang bagaimana orang-orang bereaksi terhadap dan di dalam komunitas penggemar. Saya suka melihat apa yang seorang seniman lakukan dengan karya kanon yang diperluas, didefinisi ulang, atau didekonstruksi. Menjelajahi naskah sebagai transformasi, seseorang akan selalu merasa diri mereka di lantai paling dasar, bahkan ketika naskah utamanya berusia lima ribu tahun atau lebih.

Menurut kalian, apa yang akan terjadi pada jurnal ini 20 edisi berikutnya? Apa yang akan terjadi pada karya transformatif tujuh tahun mendatang?

Paul: Meramal masa depan selalu penuh kegagalan. Meski demikian, saya berharap TWC masih terus ada dan terus menerbitkan karya-karya inovatif. Saya akan sangat senang jika bisa terus bekerja sama dengan TWC – saya tidak melihat fakta itu berubah dalam waktu dekat! Dan dalam tujuh tahun, saya pikir karya transformatif akan tetap keren, inovatif, dan menyegarkan seperti sekarang. Saya merasa nanti akan ada media sosial baru yang menjadi ratu tempat membagikan karya transformatif (Tumblr…waktumu terbatas) tapi mereka akan tetap mengagumkan. Semakin banyak hal berubah, semakin banyak yang tetap sama.

Lucy: Saya melihat TWC masih akan terus ada – bahkan mungkin akan menerbitkan lebih banyak edisi per tahunnya, jika itu mungkin! Dalam tujuh tahun, karya transformatif dapat sangat diperluas oleh perubahan teknologi (dan bagaimana teknologi merespon mereka), mungkin juga dengan melakukan integrasi lebih jauh dengan objek-objek fandom itu sendiri. Orlando Jones (yang saya wawancarai di tahun 2014 bersama Bertha Chin untuk artikel di TWC Vol. 17) merupakan contoh menarik bagaimana seseorang dengan fandom dapat terlibat secara kaya (dan kadang juga secara kontroversial) dengan jaringan dan komunitas maya mereka.

Amanda: Jelas, penggemar akademis (acafan) bukan lagi fenomena baru; peneliti memiliki kecenderungan meneliti apa yang menurut mereka relevan dan menarik sebagaimana hal tersebut berhubungan dengan bidang studi mereka.

Organisasi seperti Fan Studies Network telah memperkenalkan penelitian baru berdasarkan komunitas dan publikasi yang mirip dengan Jurnal Kajian Fandom, jadi terlihat adanya pengembangan pembahasan, sementara institusi seperti University of Iowa juga membantu memastikan bahwa sejarah majalah penggemar terjaga dengan mengembangkan arsip untuk publikasi penggemar bagi para peneliti dan penggemar di masa mendatang.

Sebagai bagian dari spektrum kajian penggemar, jurnal TWC akan terus memiliki tempat dalam pembahasan bidang tersebut karena, sebagaimana yang telah saya perhatikan, jurnal ini mengizinkan adanya kecairan dan keberagaman dalam penelitian-penelitiannya.

Mengenai ke mana karya transformatif sebagai bidang studi atau sebagai minat publik selanjutnya, hal itu merupakan pertanyaan yang sangat luas. Klasik, karakter, istilah, dll. akan terus dibentuk dan ditata ulang; saya menanti melihat apa yang akan menjadi barang baru selanjutnya, dan apa yang akan jadi populer (lagi).

Dan terakhir, momen apa yang membuat kalian merasa paling bangga dalam kerja sama kalian dengan TWC?

Paul: Saya sangat bangga dengan semua karya yang saya lakukan bersama TWC. Menurut saya, edisi spesial tentang Fandom dan Performa yang Lucy dan saya sunting merupakan pengalaman luar biasa, dan saya belajar sangat banyak hal saat mengerjakannya. Tapi saya rasa saya paling bangga ketika saya memasukkan artikel ilmiah pertama saya ke TWC. Saya tidak terlalu gembira dengan artikel itu sekarang (saya tidak merasa artikel itu karya terbaik saya), dan saya lebih bangga pada karya-karya yang saya buat sejak saat itu – tapi pada saat itu, menerbitkan di TWC merupakan pencapaian besar untuk saya; itu merupakan salah satu tujuan akademik saya. Jadi meskipun saya pikir saya telah melampaui kualitas artikel tersebut dalam karya-karya terbaru saya, artikel itu tetap merupakan salah satu momen terbangga saya karena pernah diterima dalam Karya dan Kultur Transformatif.

Lucy: Ada dua momen yang sangat menonjol bagi saya.

Yang pertama, melihat artikel ilmiah saya dicetak di TWC! Itu adalah pengajuan pertama saya ke jurnal apa pun, dan merupakan artikel yang diambil dari sebuah bab dalam tesis doktoral saya yang membahas fandom R.E.M. Artikel tersebut memerlukan dua ulasan sejawat dan saya belajar sangat banyak pada waktu itu. Saya hampir menyerah pada satu titik, tapi Kristina dan Karen memberikan dorongan semangat pada saya. Kemudian saya berhasil, dan tidak pernah lagi menengok ke belakang setelahnya. Proses ini sangat berharga bagi saya dan pekerjaan saya di masa mendatang. Melihat artikel saya akhirnya diterbitkan merupakan momen yang paling membanggakan dan memberi saya sebuah pesan yang akan saya rekomendasikan kepada orang lain: terus maju dan jangan menyerah!

Yang kedua, edisi spesial tentang performa dan performativitas dalam fandom (Vol. 18, 2015) yang saya sunting bersama Paul juga merupakan momen paling membanggakan. Penyunting yang sebelumnya ditugaskan keluar, dan kami masuk saat tahap paling akhir. Kami berhasil menyatukan berbagai penulis dan topik yang sangat bervariasi dalam waktu yang sangat singkat. Ketika saya melihat hasil akhir edisi tersebut, saya sangat puas dengan luas cakupan dan kualitas karya-karya di dalamnya. Selalu menjadi keistimewaan dan kegembiraan tersendiri bisa bekerja bersama Paul, jadi pengerjaan jurnal itu pun merupakan proses yang menyenangkan. Kristina dan Karen juga sangat mendukung dan banyak membantu dan saya merasa sangat bangga pada para penulis dalam edisi spesial tersebut. Saya berharap ada lebih banyak kesempatan untuk bekerja bersama TWC dan saya menanti setidaknya dua puluh edisi TWC mendatang!

Amanda: Ketika saya diminta menyunting sebuah artikel ilmiah untuk jurnal TWC, secara pribadi saya merasa bangga bergabung dalam peran penilai. Akan tetapi, saya kira mengetahui bahwa Karya dan Kultur Transformatif telah menerbitkan 20 edisi merupakan sumber kebanggaan terbesar.

Artikel berita ini diterjemahkan oleh penerjemah relawan OTW. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pekerjaan kami, kunjungi laman Penerjemah di transformativeworks.org.